Studium Generale FK UI: Hemofilia

Rabu 9 Desember 2009, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia kembali mengadakan kuliah Studium Generale menggunakan video conference bertema Hemofilia.

Kuliah yang diadakan di ruang video conference GDLN UI, kampus UI Salemba ini disaksikan oleh peserta dari Universitas Bhayangkara Surabaya, Universitas Bengkulu, Universitas Tanjungpura, Universitas Andalas, dan Universitas Padjajaran.

Kuliah tersebut diisi oleh lima pembicara dengan pembahasan topik yang berbeda-beda, yaitu: Prof. Dr. Djajadiman Gatot, SpA(K) (Introduction & Overview Hemofilia), Prof. Dr. Rahaju D Setiabudy , SpPK DSc (Diagnosis Laboratorik Hemofilia), Dr. Elida Ilyas,SpRM (Rehabilitasi Medik pada Hemofilia); Drg. Siti Marhamah, SpPerio (Penanganan Masalah Gigi dan Mulut pada Hemofilia); dan Dr. Ika Widyawati, SpKJ (Masalah Kejiwaan pada Penderita). Kuliah mengenai hemofilia ini diadakan karena hemofilia makin terkenal, jumlah pasien yang menderita hemofilia semakin banyak, dan kurangnya informasi tentang penyakit ini.

Hemofilia merupakan penyakit gangguan pembekuan darah yang bersifat herediter (diturunkan). Hemofilia A disebabkan kekurangan faktor VIII, sedangkan hemofilia B disebabkan kekurangan faktor IX. Diperkirakan terdapat sekitar 400.000 penderita hemofilia di seluruh dunia, sekitar 20.000 terdapat di Indonesia, meskipun hingga Desember 2007 baru tercatat 1130 pasien hemofilia. Diketahui bahwa dari 1:10.000 kelahiran bayi lelaki akan  terlahir mempunyai penyakit ini, sedangkan 1:50.000 kelahiran bayi perempuan akan terlahir mempunyai penyakit ini. Gejala penyakit ini adalah pendarahan pada sendi, otot dan organ. Setelah mengalami pendarahan pasien akan mengalami fase akut kemudian fase kronik. Seseorang yang mengalami pendarahan akan mengalami gangguan fungsi gerak yang mengakibatkan aktivitas sehari-harinya terganggu, sehingga produktivitas dan kualitas hidupnya menurun. Disebutkan bahwa lutut dan siku paling banyak mengalami pendarahan karena sering dipaksa kerja. Cara penanganan dari setiap fase berbeda-beda dari mulai yang sederhana, yaitu istirahat yang cukup lama dengan posisi tertentu, melakukan terapi, hingga melakukan rekreasi/olahraga.

Kuliah ini diakhiri dengan diskusi antara pembicara dan peserta dari 5 universitas. Minat peserta terhadap kuliah ini cukup besar,  dilihat dari jumlah peserta yang hadir cukup banyak dan cukup aktif. (Din)

You may also like...

1 Response

  1. Imelda Lukito says:

    Saya sebagai orang awam yg concern dengan penderita hemofilia, yg disebutkan di Indonesia ada sekitar 20.000 penderita, namun yg tercatat hanya 1.130 saja. Bagaimana dengan penderita yg 19.000 org tsb dapat ditangani apabila tidak tercatat. Perlu dipikirkan cara bagaimana supaya 19.000 org tsb dapat diketahui keberadaannya dan dilakukan penanganan yg seharusnya. Terima kasih.

Leave a Reply