Studium General VC Fakultas Kedokteran UI “Human Immunodeficiency Virus”

Rabu, 11 Desember 2013,  Studium General VC Fakultas Kedokteran UI kembali diadakan di Ruang Video Conference GDLN UI Salemba yang diikuti oleh mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Universitas Tanjungpura. Perkuliahan diisi oleh dua narasumber dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yaitu Dr. July Kumalawati, DMM, SpPK(K) dan Dr. Ninik Sukartini, SpPK(K) dari Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Perkuliahan pertama disampaikan oleh  Dr. July Kumalawati, DMM, SpPK(K) dengan tema “Virologi dan Perjalanan Penyakit Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)”. Dalam pembahasannya narasumber menjelaskan mengenai  struktur virus HIV yang secara umum dibedakan menjadi dua bagian, yaitu bagian selubung (envelope) dan bagian inti (core). Pada bagian envelope tersusun oleh lapisan lipid bilayer yang serupa dengan plasma membran pada sel manusia. Bagian kedua dari struktur HIV adalah bagian core (inti). Dimana terdapat capsid pada bagian dalam. Pada bagian ini berbentuk roughly bullet, dengan bagian luar ‘skin’  dibentuk dari protein molekul RNA, setiap RNA dilapisi oleh nucleocasid protein.

Dr. July Kumalawati, DMM, SpPK(K)

Pembicara 1 – Dr. July Kumalawati, DMM, SpPK(K)

Antigen HIV adalah protein yang ditemukan dalam struktur inti dari HIV, organisme yang menyebabkan AIDS . Protein ini dikenal sebagai p24 , dan kehadirannya digunakan sebagai tes untuk infeksi oleh virus. Rangkaian genom RNA HIV panjangnya lebih kurang 9.2 kilo basa dan susunan dasar urutan asam nukleat sama seperti retrovirus lain yang sudah diketahui. Segmen LTR (Long Terminal Repeat) pada ujung rangkaian setiap genom berfungsi untuk mengatur integrasi virus ke genom pejamu, ekspresi gen virus, dan replikasi. Rangkaian gag mengkode protein struktur inti, sedangkan rangkaian env mengkode glikoprotein envelope gp120 dan gp41 yang diperlukan untuk memulai infeksi virus. Rangkaian pol mengkode enzim transkriptase reversi, integrase, dan enzim protease untuk replikasi. Terdapat rangkaian pengatur lain yaitu rangkaian tat, rev, vif, nef, vpr dan vpu dengan fungsi yang berbeda-beda.

Penularan HIV dapat melalui berbagai cara seperti melalui darah dan produk darah, tusukan benda tajam yang tercemar darah dan cairan tubuh, hubungan seksual dan melalui plasenta dari ibu ke janin.

Pembicara kedua yaitu Dr. Ninik Sukartini, SpPK(K) membawakan kuliah dengan tema “Pemeriksaan Laboraturium pada Infeksi Human Immunodeficiency Virus : Diagnosis dan Pemantauan”. Narasumber memaparkan mengenai diagnosis dan pemantauan perkembangan penyakit HIV pada manusia. World Health Organization (WHO) mengklasifikasikan HIV/AIDS ke dalam beberapa kategori yaitu :

  • Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS
  • Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernapasan atas yang berulang
  • Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis.
  • Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS.
Pembicara 2 - Dr. Ninik Sukartini, SpPK(K)

Pembicara 2 – Dr. Ninik Sukartini, SpPK(K)

Pemeriksaan laboraturium sangat dibutuhkan untuk mendeteksi kemungkinan terjangkitnya HIV. Terdapat berbagai macam tes laboratorium untuk memastikan hal tersebut. Secara garis besar terbagi menjadi pemeriksaan serologis untuk mendeteksi keberadaan antibodi terhadap HIV dan pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan virus HIV. Pemeriksaan yang mudah dilaksanakan adalah pemeriksaan terhadap antibodi HIV. Metode yang biasa dilakukan di Indonesia adalah ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay).

Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tes ini adalah adanya masa jendela. Masa jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya antibodi yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan. Antibodi mulai terbentuk dari 4-8 minggu setelah terinfeksi. Jadi, jika pada masa ini hasil tes HIV pada seseorang yang sebenarnya sudah terinfeksi HIV dapat memberi hasil negatif. Untuk itu jika ada kecurigaan dilakukan pemeriksaan ulang 3 bulan kemudian.

“Mencegah lebih baik dari pada mengobati” memang sangat tepat saat membicarakan masalah HIV/AIDS sebab sampai saat ini belum juga ditemukan cara perawatan, vaksin, maupun obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari dalam tubuh manusia. Oleh karenanya, mencegah penularan HIV merupakan cara yang paling efektif untuk menghindari AIDS.

You may also like...