Oleh-oleh Workshop “Internet for Research” [Hari 2: Rasch Measurement Model]

Pelatihan di hari kedua ini masih dipandu oleh tim dari Universiti Teknologi Utimara (UiTM). Di jadwal kegiatan yang sudah dibagikan sebelumnya, materi hari ini adalah e-surveyor/e-questionnaire dan questionnaire analysis.

Tepat pukul 09.30 sesi pertama dimulai dengan berdiskusi mengenai materi hari sebelumnya. Kurang lebih 30 menit kami berdiskusi. Segera setelah itu slide presentasi pun berganti ke materi selanjutnya: Rasch Model.

Membaca judulnya agak membuat kami bertanya-tanya,”Apaan tuh?” Sang instruktur kemudian menjelaskan bahwa Rasch adalah sebuah model pengukuran/analisa data. Mendengar penjelasan tersebut kami merasa sedikit kecewa karena awalnya sudah berharap akan mendapat panduan mengenai berbagai aplikasi kuesioner/survey online. Namun tak mengapa, karena ternyata seharian berkutat dengan aplikasi berbasis model pengukuran Rasch tidak membuat kami benar-benar bisa mengoperasikan Rasch dengan fasih.

Dengan demikian, tulisan saya kali ini hanya akan menceritakan apa yang kami dapat dalam mempelajari Rasch Model. Mengenai apa, mengapa, dan bagaimana Rasch Model itu, dapat Anda baca dan pelajari langsung melalui situsnya: http://www.rasch-analysis.com/.

Penjelasan mengenai model Rasch diberikan secara singkat. Dari penjelasan yang singkat itu, diperoleh pemahaman bahwa model ini didasari oleh sebuah teori yang serupa dengan item response theory. Dalam model ini, suatu hal dipandang sebagai sebuah kesempatan/peluang, atau kebolehjadian. Ada dua teorema yang terkandung dalam logika model Rasch, yaitu:

  1. Seseorang yang memang memiliki kemampuan lebih, akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menjawab benar semua pertanyaan;
  2. Pertanyaan yang mudah akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dijawab dengan benar oleh semua orang.

Menyadari kedua teorema tersebut, maka tidaklah heran jika analisa yang dilakukan oleh model Rasch difokuskan kepada dua hal: [1] responden/subjek, dan [2] item pertanyaan. Analisa terhadap responden akan memberikan hasil yang menunjukkan peringkat (rank) dari setiap responden. Sedangkan analisa terhadap item pertanyaan akan memberikan kepada kita hasil yang menunjukkan tingkat kemudahan setiap item yang sesungguhnya, yang juga secara langsung memperlihatkan tingkat realibilitas dari kuesioner yang kita gunakan.

Dalam pelatihan ini, kami mencoba sebuah aplikasi yang berbasis model Rasch, yaitu Ministep. Aplikasi tersebut merupakan student-version dari aplikasi yang bernama Winstep, sehingga tentunya lebih ringan dan gratis 🙂 namun memiliki fungsi analisa yang terbatas. Penampakan aplikasi tersebut tidak memberikan kesan yang mendalam, walaupun pengoperasiannya cukup mudah. Begitu pula dengan penampakan output datanya, yang serupa dengan penampilan layar “Command Prompt” hanya dengan latar belakang putih dan font berwarna hitam. Namun dengan output yang berformat default .txt, tentu kita akan dapat menjadi lebih mudah untuk melakukan penyalinan ke dalam karya tulis yang sedang kita susun.

Satu hal yang menarik dari aplikasi ini adalah kita dapat menggunakannya untuk mengoreksi ujian secara massal. Kita hanya tinggal memasukkan respon dari setiap responden (dalam hal ini berarti peserta ujian), lalu menuliskan kunci jawaban pada kolom yang disediakan. Lalu, voila! kita bisa langsung mendapatkan tiga hal: [1] jumlah jawaban yang benar dan salah dari setiap responden, [2] peringkat setiap responden (yang menjawab benar paling banyak berada di paling atas), dan [3] tingkat kesulitan dari setiap pertanyaan.

Jika dalam kehidupan akademik Anda sudah terbiasa menggunakan aplikasi pengukuran/analisa data, tampaknya aplikasi berbasis Rasch Model tidak akan menjadi suatu hal yang menawarkan hal baru. Namun, bukan berarti tidak berguna sama sekali. Setidaknya aplikasi seperti Ministep dan Winstep dapat menjadi aplikasi tambahan yang dapat mempermudah proses analisa dalam penelitian yang sedang Anda lakukan, terutama untuk menganalisa item-item dalam kuesioner yang digunakan sebagai alat ukur penelitian.

Sekian dulu untuk hari ini.

Cerita selanjutnya mengenai materi-materi di hari-hari berikutnya akan saya sampaikan di hari terakhir, mengingat mulai Rabu hingga Sabtu materinya merupakan rangkaian proses penulisan proposal penelitian. Sampai berjumpa lagi di edisi Oleh-oleh Workshop “Internet for Research” selanjutnya.

You may also like...

Leave a Reply