Video Conference: Asian Development Bank Institute Symposium

Asian Development Bank Institute mengemukakan  “PPPs for Infrastructure in Asia and the Pacific” pada simposium yang disiarkan melalui video conference.

Simposium dengan sub tema “Global Challenges and Constraints MP3IC Knowledge Sharing” ini berlangsung pada 16-17 Desember 2009 di kantor utama ADB, Manila. Acara yang disiarkan ke beberapa negara ini dihadiri oleh beberapa organisasi seperti World Bank, Asian Development Bank, National Council for Public Private Partnerships, Inter-American Development Bank.

Beberapa organisasi swasta seperti Ernst & Young dan Manatt, Phelps & Phillips juga ada disini. Indonesia sendiri diwakili oleh Noeraya Soewarno sebagai Investment Officer Indonesia Recident Mission, Dasmir Good, Zuchrufiyanti dan Danis R dari Bappenas. Peserta dari Indonesia ini mengikuti jalannya simposium dari ruang video conference GDLN UI Salemba. Peserta lain berasal dari konsultan keuangan maupun hukum serta pihak pemerintah yang terkait dengan infrastruktur.

Symposium ini dibuka oleh Mr. Xianbin Yao, Director General of Regional & Sustainable Development Department, Asian Development Bank dan Mr. Philip C. Erquiaga, Director General of Private Sector Operations Department, ADB yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan oleh Mr. Steven J. Puig, Vice Precident for the Private Sector and Non-Sovereign Guaranteed Operations, Inter-American Development Bank. Selanjutnya, 8 sesi akan diisi oleh berbagai pembicara dari berbagai negara.

Sesi pertama dipandu oleh Elaine Glennie seorang Senior Capacity Building Specialist, ADB mengupas Publlic Private Partnership (PPP) secara global. Isinya adalah mengenai pembagian resiko, kontrol, investasi, manajemen dan perjanjian kontrak kerja antara sektor publik dan swasta. Pembicara yang sama kemudian mengisi sesi kedua, kali ini ia memandu pembahasan bertema PPP Readiness; yaitu kesiapan masing-masing negara untuk menerapkan PPP dalam pembangunan infrastrukturnya.

Pembahasan dilanjutkan ke sesi 3 tentang peran peraturan pemerintah dan peran penyedia service dalam pembagian keuntungan dan risiko, yang dipandu oleh Vicky Delmon, Senior Counselor, PPP Water & Transport, World Bank.

Sesi 4, sesi terakhir hari pertama, diisi dengan pembahasan kerangka kerja PPP secara institusi, yang dipimpin oleh Arthur Smith, President, management Analysis Incorporated & Chairman, National Council for Public Private Partnerships.

Pada hari kedua yang bertema Addressing the Challenges for PPP Delivery in Asia Pacific, pembahasan lebih terfokus pada penerapan PPP di negara-negara Asia Pasifik.

Sesi ke-5 dipimpin oleh Kylee Anastasi, Independent Consultant dengan pembahasan tentang perbedaan prosedur lelang dan masalah kontrak kerja.

Sesi berikutnya adalah tentang proses penilaian penjaminan yang dipimpin Arthur Smith, President, management Analysis Incorporated & Chairman, National Council for Public Private Partnerships. Sesi dilanjutkan dengan pembahasan tentang alokasi resiko dan resiko pembiayaan dalam suatu proyek, dipimpin oleh Michael Barrow, Director Infrastructure Finance Division 1 Asian Development Bank. Sesi terakhir dipimpin kembali oleh Arthur Smithdan diisi dengan review studi kasus dari beberapa negara yg terpilih yaitu Afghanistan, India, Pakistan, Filipina, and Thailand.

Dari simposium 2 hari ini, dapat diambil kesimpulan bahwa PPP merupakan suatu panduan bagi kerjasama antara sektor publik dan swasta yang saling menguntungkan dan lebih terarah karena kerangka kerja yang jelas, pembagian resiko yang adil, kontrak kerja yang terintegrasi, dan adanya pengawasan pada suatu proyek. Panduan ini diharapkan mampu menarik para investor untuk bersama-sama membangun infrastruktur untuk kepentingan publik, dengan tidak merugikan sektor tersebut sekaligus memberi keuntungan yang sama pada sektor swasta. (de)

You may also like...

Leave a Reply