ISODEL 2009

Meski mulai banyak digunakan, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia masih butuh dukungan dari berbagai pihak.

Begitulah kesimpulan dari kegiatan International Symposium of Open, Distance, and E-learning (ISODEL) 2009, yang diselenggarakan pada 8-11 Desember 2009 lalu, di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta.

Simposium bertema “Education in Digital Era: Continuous Professional Development for ICT-Based learning” ini ditujukan bagi pembuat kebijakan, peneliti, dan praktisi dari manapun, untuk saling berbagi ide, masukan dan rekomendasi bagi penyelesaian masalah dalam pendidikan.

“Partisipan ISODEL 2009 ini berasal dari┬áThailand, Afrika Selatan, Malaysia, Filipina, Vietnam, Cina, Portugal dan Microsoft Asia Pasifik,” tutur Lili gani, ketua panitia acara ini.

Total, ada 568 partisipan dari 16 negara yang hadir dalam acara ini, termasuk 2 dari PPSP UI. Seorang diantaranya bahkan menyampaikan materi berjudul “ICT-Based Module Training for UI Teacher”, yang berisi pengalaman penyelenggaraan kegiatan pelatihan TIK bagi dosen UI.

Selain acara presentasi dari partisipan, ISODEL juga diisi dengan kegiatan kunjungan ke sekolah-sekolah di Yogya dan juga ke lokasi wisata Prambanan;  termasuk menonton sendratari Ramayana disana.

Presentasi-presentasi partisipan pun bermacam-macam; yang kemudian dibagi ke dalam 4 sub tema: (1) The emerging ICT for Education, (2)International Experiences in Open Distance and E-learning (ODEL), (3) ICT Based Learning, (4) Continuous Professional Development for Teachers.

Namun, dari tema-tema presentasi tersebut masih ada kecenderungan bahwa TIK hanya terbatas pada isu akses, infrasruktur dan hal-hal teknis saja. Padahal, TIK semestinya bisa dilihat dengan cara pandang yang lebih luas, seperti penggunanya, rancangan lingkungan belajar, perangkat lunak, etika dan budaya TIK, serta perannya dalam perubahan masyarakat.

Tautan unduhan presentasi ISODEL 2009.

Pada akhirnya, meski TIK mulai banyak dipakai dalam dunia pendidikan; pengguna komputer makin banyak, jaringan internet yang lebih mudah didapat, meningkatnya kemampuan TIK, dan kreasi dan inovasi dalam TIK yang makin berkembang, namun masih ada daerah-daerah di Indonesia yang terbelakang. Mereka tak memiliki komputer kurangnya pengajar yang mengerti TIK, kurangnya materi-materi dalam bentuk elektronik, serta infrastruktur yang memadai.

Hal ini lah yang semestinya perlu dukungan dari beberapa pihak; termasuk pemerintah, dalam hal: infrastruktur, pengembangan penggunaan TIk dalam pendidikan, eksplorasi TIK berbagai pihak terkait,  dukungan hukum bagi TIK, sosialisasi penggunaan TIK, dan komitmen dari seluruh pihak untuk mengembangkan TIK tanpa batas. (faths)

You may also like...

Leave a Reply